Ringkasan 13 adab penuntut ilmu saat belajar

Diringkas dari Tadzkirat us-Sāmi’, bab kedua, pasal ketiga Memulai belajar Alquran, menghafalnya, dan berusaha menguasai tafsir dasarnya. Lalu menghafal kitab pendek dari setiap...

Diringkas dari Tadzkirat us-Sāmi’, bab kedua, pasal ketiga

  1. Memulai belajar Alquran, menghafalnya, dan berusaha menguasai tafsir dasarnya. Lalu menghafal kitab pendek dari setiap bidang ilmu: hadits dan ulumul hadits, aqidah, fiqih, ushul fiqih, nahwu, dan shorof. Namun, tidak boleh sampai meninggalkan pelajaran Alquran. Semua hafalannya dipelajari bersama seorang guru, jangan membaca sendiri penjelasannya.
  2. Awal-awal belajar jangan menyibukkan diri dengan perbedaan pendapat.
  3. Pastikan apapun yang akan difahal sudah dikoreksi bersama guru atau bersama orang lain.
  4. Segera mengikuti majelis sama’ (pembacaan) hadits. Jangan sampai melewatkan majelis sama’. Pelajari juga sanad dan perawinya, maknanya dan kandungan hukumnya, faidah dan kosa katanya. Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Siapa yang mempelajari hadits, argumentasinya jadi kuat.”
  5. Apabila sudah mengikuti penjelasan hafalan-hafalannya, menguasai hal-hal yang tampak rumit baginya, maka dia beralih meneliti kitab-kitab panjang. Jangan sampai meremehkan setiap faidah atau kaidah yang dia dengar. Segera catat dan hafal. Hendaknya dia memiliki ambisi besar dalam mencari ilmu, sehingga tidak merasa cukup dengan sedikit ilmu padahal mampu meraih banyak. Jangan merasa kenyang dengan warisan para nabi kalau hanya mendapat secuil.
  6. Komitmen dengan majelis syaikhnya, baik majelis pelajaran atau pembacaan. Lebih-lebih, seluruh majelis yang dia adakan jika mampu. Juga berusaha melayaninya. Hendaknya mengulang faidah penting, kaidah-kaidah, dan perkataan-perkataan syaikhnya. Pengulangan ini hendaknya sewaktu beranjak pergi dari majelisnya, sebelum pikirannya beralih ke pikiran lain.
  7. Salam saat menghadiri majelis dengan salam yang didengar para hadirin, lalu mengkhususkan gurunya dengan salam dan penghormatan. Setelahnya, jangan melangkahi pundak-pundak hadirin untuk mencari tempat dekat syaikh jika tidak memiliki tempat khusus di dekat syaikh. Duduk saja di belakang orang paling terakhir di majelis itu. Kecuali syaikh dan para hadirin secara terang-terangan menyuruhnya untuk maju atau memang memiliki tempat di dekat syaikh, maka tidak mengapa.
  8. Beradab selama duduk di majelis, karena semua yang ada di majelis adalah temannya.
  9. Jangan malu menanyakan sesuatu yang belum jelas baginya. Mujahid rahimahullah berkata, “Tidak belajar ilmu orang pemalu dan orang sombong.”
  10. Mengetahui gilirannya, sehingga tidak mengambil giliran orang lain.
  11. Duduk di depan syaikh dengan adab, seperti telah dijelaskan di pasal sebelumnya.
  12. Apabila tiba gilirannya membaca, maka dia meminta izin kepada syaikh untuk membaca. Setelah diizinkan, dia mulai dengan ta’awwudz, kemudian basmalah, kemudian hamdalah, kemudian shalawat, kemudian mendoakan syaikhnya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, lalu untuk dirinya dan seluruh kaum muslimin. Dia juga perlu mendoakan penulis buku.
  13. Saling memotivasi sesama temannya untuk senantiasa mencari ilmu sampai berhasil, menunjuki apa yang perlu dilakukan, ikut mengangkat kegelisahan mereka, membantu kebutuhan mereka, mengulang kembali pelajaran yang telah didapat, dan memberi nasehat agama. Jangan sampai merasa paling hebat di antara yang lain dan bangga dengan kecerdasannya. Namun, hendaknya memuji Allah atas semua itu agar Allah menambahinya karena rasa syukurnya.
Butuh bantuan?